Sabtu, 29 Agustus 2015

Langkah-langkah Perbaikan Yang Tidak Terdengar


*Essai yang saya buat untuk kegiatan Orientasi Diponegoro Muda 2015

Anda muak dengan keadaan negara ini? Anda nggerundel dengan kualitas negara ini? Anda selalu berkata bahwa negara ini tidak benar, tidak adil, dan sejenisnya?
Aih, hentikan omong kosongmu!
Tak ada manfaatnya terus-terusan menyalahkan dan menjelek-jelekkan negara tercinta ini--walaupun ia memang demikian. Tak ada gunanya membual tentang sikap bejat para pejabat dan anggota dewan--walaupun bualan itu benar. Tak ada gunanya pula Anda ngoceh sok tahu tentang keadaan ekonomi, nilai tukar rupiah, dan sejenisnya.
Karena semua itu tidak ada gunanya.

***
Di dunia ini, dalam konteks menanggapi keadaan, secara garis besar orang-orang terbagi ke dalam dua kelompok. Pertama adalah kelompok yang berkomentar, dan yang kedua adalah kelompok yang memperbaiki. Semua orang mempunyai hak penuh untuk memilih masuk ke kelompok mana. Dan karena kebebasan itu, hampir semua orang memilih masuk ke kelompok yang pertama, yaitu kelompok yang berkomentar. Kenapa? Tentu saja mereka memilih berkomentar, karena berkomentar adalah bagian yang paling mudah.
Presiden mengambil keputusan A, mereka langsung berkomentar, “Wah wah, presiden ini gimana sih? Kok malah menyengsarakan rakyat.” Kemudian mereka menjelek-jelekkan, “Pantes aja, presidennya aja kurus kerempeng nggak punya wibawa kayak gitu kok..”
Nilai tukar rupiah terhadap dollar menurun, dengan sok tahu mereka langsung berkomentar, “Hancur negara ini kalo terus-terusan seperti ini. Ini presidennya gimana sih, ini DPR-nya pada kemana sih? Harusnya DPR mewakili rakyat agar kebijakan ekonomi yang diambil menguatkan rupiah.” Kemudian menjelek-jelekkan, “Ini pasti kerja DPR-nya nggak bener nih, mereka lebih suka korupsi daripada nampung aspirasi rakyat.”
Banyak sekali, bukan, yang menanggapi keadaan dengan sekedar berkomentar? Tentu saja! Atau mungkin Anda juga termasuk di dalamnya?
Nah, kabar baiknya, tidak semua orang memilih untuk sekedar berkomentar dalam menanggapi keadaan, ada orang yang lebih memilih memperbaiki daripada melontarkan komentar-komentar kosong yang tidak ada gunanya.
Tapi, berbanding terbalik dengan jumlah kelompok pertama, jumlah orang yang memilih bagian kedua (memperbaiki keadaan) sangatlah sedikit. Tentu saja sedikit, karena bagian ini adalah bagian yang sangat susah dan berat. Dari 250 juta penduduk Indonesia, paling-paling hanya sekitar satu juta orang yang memilih bagian berat ini.
Padahal, memperbaiki keadaan inilah yang sangat baik dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri dan lingkungan (negara). Memperbaiki keadaan ini pula lah yang lebih urgen daripada sekedar berkomentar kosong dan menjelek-jelekkan tanpa ada aksi nyata untuk perbaikan.
Patutlah kita mengagumi dan mencontoh mereka. Siapa? Yaitu mereka yang dalam senyap berusaha untuk memperbaiki keadaan. Tidak banyak berkomentar, dan lebih mengedepankan aksi nyata. Tidak peduli walaupun media tidak menampilkan jasa besar mereka dan lebih memilih menampilkan tayangan yang isinya hanya komentar tidak penting dan menjelek-jelekkan negara.
Anda belum tahu siapa mereka?
Mari kita kunjungi salah satunya. Mari terbang sejenak ke Jakarta, dan lihat sekelompok anak muda yang terkumpul dalam forum Hackaton Merdeka, yang mempergunakan seluruh kemampuan mereka dalam hal coding untuk membuat aplikasi pemecahan masalah harga komoditas pokok di Indonesia (yang salah satu manfaatnya secara tidak langsung adalah mengendalikan nilai tukar rupiah terhadap dolar). Saya tidak paham secara detail apa yang mereka buat, tapi saya paham betul bahwa mereka ini adalah anak muda yang telah memilih tugas mulia untuk memperbaiki keadaan, bukan sekedar berkomentar dan menjelek-jelekkan keadaan. Presiden Joko Widodo menyambut perjuangan mereka dengan sangat baik, dan kemarin tanggal 28 Agustus 2015 anak-anak muda itu dipanggil Presiden Joko Widodo ke Istana Kepresidenan Bogor untuk menerima penyambutan dan penghargaan.
Sekarang kita pindah sejenak ke Semarang, dan lihat sekelompok Ilmuwan yang secara konsisten terus melakukan riset dan pengembangan teknologi untuk memajukan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Kita lihat salah satu dari mereka, beliaulah Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA yang baru saja mengembangkan Zeta Green yang merupakan produk riset beliau dalam konteks fisika plasma. Secara garis besar, Zeta Green digunakan untuk merubah kondisi udara yang kotor dan beracun di dalam ruangan menjadi udara bersih. Sehingga alat tersebut dapat melindungi banyak orang dari persebaran penyakit melalui udara. Angkasa Pura menyambut baik inovasi beliau dengan memberi penghargaan, dan alat tersebut sekarang telah benar-benar digunakan di beberapa bandara di Indonesia.
Dan masih ada banyak orang hebat yang telah memilih tugas berat untuk memperbaiki keadaan melalui kemampuan dan karya mereka masing-masing, bukan sekedar komentar kosong tak berguna.
Kita harus meneladani mereka. Namun sayangnya, kita tidak akan bisa meneladani mereka. Kisah mereka dan langkah-langkah perbaikan yang mereka tempuh tidak akan dapat kita dengar. Kenapa? Karena kita semua terlalu bising berkomentar dan menjelek-jelekkan keadaan.

Jumat, 28 Agustus 2015

Universitas Riset


Bukan hanya dipertemukan (dikenalkan) dengan dosen-dosen hebat di fisika Undip, di ODM (Orientasi Diponegoro Muda) hari kedua kami juga dikenalkan dengan  organisasi-organisasi tingkat fakultas dan jurusan di Undip. Ada banyak organisasi, dan sementara ini saya tertarik dengan dua:
RIC (Research Incubator Center) - organisasi riset tingkat fakultas di FSM
dan Cosmos - Biro riset di jurusan Fisika

Nah, kenapa saya tertarik?
Salah satu alasannya adalah karena mereka benar-benar melakukan riset! Saya yang awalnya menganggap sebelah mata tentang kualitas riset di Undip mulai berubah pikiran. Karena ternyata mereka benar-benar melakukan riset dan menghasilkan produk yang berguna, bukan sekedar riset ecek-ecek ya
ng tujuannya cuma buat diikutkan lomba.

Semoga Undip benar-benar menjadi sebuah universitas riset yang unggul di tahun 2020 mendatang (sesuai dengan visi Undip), dan saya ingin ikut berkontribusi dalam mengembangkan riset di Undip.

Masa Depan Yang Luar Biasa

"Setiap kali saya melihat anak-anak muda masuk jurusan fisika, saya melihat bahwa masa depan kita begitu luar biasa."

~Pak Muhammad Nuh


Itu yang sangat saya ingat dari kegiatan Orientasi Diponegoro Muda (ODM) 2015 hari kedua. Kegiatan di hari kedua ini jauh lebih menarik dan membakar daripada hari sebelumnya.
Jadi, di hari ini kita (mahasiswa jurusan fisika) dikumpulin jadi satu, dan dipertemukan dengan para dosen hebat kita, untuk kemudian para dosen itu membakar semangat kita.

***
Oh iya, saya seneng banget pas bisa ngelihat Pak Nuh secara langsung. Sebelumnya saya udah lihat beliau di internet pas saya browsing tentang produk riset unggulan dari Undip. Nah, di proses browsing itu saya nemu Pak Nuh, yang baru aja ngembangin Zeeta Green yang berfungsi untuk menyaring udara kotor dan beracun menjadi udara yang bersih dan baik dengan teknologi plasma fisika. Zeeta Green itu mendapat penghargaan dari Angkasa Pura, dan si Zeeta Green itu sudah benar-benar di pasang di beberapa bandara di Indonesia. Untuk lebih jelasnya mengenai Zeeta Green silahkan cari-cari sendiri.

***
Eh, saya bukan cuma seneng ngelihat Pak Nuh aja lho.. melihat dosen-dosen hebat yang lain pun saya seneng..

Rabu, 26 Agustus 2015

Tugas ODM: Foto dengan Anak Fakultas Lain


Sementara maba fakultas selain FSM udah mendapat banyak tugas, mulai dari: bikin co-card, buku, ngerangkai pita, dan thetek-bengek lainnya, saya (dan seluruh maba FSM) masih belum dapat tugas apa-apa.
Kata akun resmi @odmfsmundip sih, kakak-kakak FSM nggak akan ngasih tugas apa-apa dulu buat maba FSM. Besok-besok kalo rangkaian ODM-nya udah dimulai baru diberi tugas, dan (katanya) tugas itu bakalan mudah dilaksanakan, nggak neko-neko, dan pasti ada manfaatnya.

***
Dan hari ini tadi akhirnya maba FSM diberi tugas: berfoto dengan anak fakultas lain dengan pose yang udah ditentukan. Posenya tuh, tangan maba FSM dan tangan anak fakultas lain harus membentuk love. Oh!!
Ditambah lagi, background fotonya harus di tempat yang merepresentasikan ciri khas fakultas si anak fakultas lain itu (misalnya di gedung fakultas si anak itu).
Nih, Mas Ahmad sama Mas Yuyun, sebagai mentor kelas A nyontohin posenya:

Apakah tugas itu bermanfaat?
Tentu saja!
Kata Mas Yuyun sih, tugas itu biar anak FSM kenal sama anak fakultas lain.. karena kecenderungan anak FSM itu lebih suka asik dengan dunianya sendiri.

FMIPA Berubah Menjadi FSM


Dulu, FSM (Fakultas Sains dan Matematika) Undip itu bernama FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Saya sih udah tahu lama kalo namanya dirubah, tapi saya masih belum tahu kenapa namanya dirubah.


***
Nah, pas kegiatan ODM FSM tadi pagi akhirnya saya udah dapet jawaban dan asal-usul kenapa nama itu dirubah.
Jadi gini, kata-kata MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) itu cenderung diartikan kalo jurusan yang ada di bawah fakultas itu cuman Matematika dan IPA (Fisika, Kimia, Biologi). Lhah, kenyataannya... jurusan yang ada itu mencakup Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Instrumentasi-Kontrol, Statistika dan Informatika.
Jadi, bakalan nggak sesuai kalo nama yang dipake adalah MIPA, karena Instrumentasi-Kontrol, Statistika dan Informatika secara umum tidak termasuk ke dalamnya.
Maka dari itu, Undip merubah nama FMIPA menjadi FSM (Fakultas Sains dan Matematika), karena kata Sains mencakup arti yang lebih umum daripada sekedar Fisika-Kimia-Biologi, dan Instrumentasi-Kontrol, Statistika dan Informatika bisa termasuk di dalamnya.

Itu tadi penjelasan dari Bu Widowati, dekan Fakultas Sains dan Matematika Undip.

Upacara ODM Fakultas Sains dan Matematika 2015

Kemarin saya udah upacara pembukaan ODM di stadion Undip Tembalang, sekarang jadwalnya ganti kegiatan ODM di fakultas. Nah, karena saya anak jurusan Fisika, jadinya saya ngikutin ODM di FSM (Fakultas Sains dan Matematika), dan sebelum rangkaian kegiatan ODM fakultas ini dilaksanakan, ada upacara lagi! Hadoh.
Nih, saya ada di barisan depan (lagi):

Selasa, 25 Agustus 2015

Berdiri di Barisan Paling Depan


Nah apa mau dikata, karena saya memang datang agak siang, saya tidak bisa mendapatkan tempat upacara di barisan paling depan. Padahal saya udah ngebet banget pengen berdiri di barisan paling depan di Upacara Pembukaan Orientasi Diponegoro Muda 2015/2016 ini.
Menyedihkan, tentunya. Karena di barisan tengah ini saya tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi di depan sana. Melihat ke depan, yang saya lihat cuma badan orang di depan saya, kalau pun saya noleh ke samping juga sama.

***
Karena mahasiswa baru yang datang masih sangat banyak, saya berharap agar nantinya dibuat sebuah barisan baru, dan rencananya saya bakal nyerobot buat berdiri di barisan paling depan pada barisan baru itu.
Nah, pas bener-bener dibuat barisan baru, saya pas lengah. Jadinya udah ada orang lain yang nempatin baris paling depan. Akhirnya saya cuma dapet di barisan kelima.

***
Bara di dalam hati saya sih belum padam, dan semangat buat berdiri di baris paling depan pun masih menggelora.
Semangat saya disambut!
Ada salah satu orang di barisan paling depan udah istirahat ke belakang (karena udah nggak kuat). Nah! Lagi-lagi saya lengah, dan orang di belakangnya langsung maju menggantikannya. Dan saya cuma bisa bengong melihatnya.
Saya sih udah hampir putus asa, ah, saya nggak bakalan bisa berdiri di barisan paling depan.
Dan ini bagian menariknya, si orang yang nggantiin tadi juga istirahat ke belakang! Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya langsung nyerobot dari belakang buat maju ke depan.
Pada akhirnya saya bisa mengikuti upacara dengan berdiri di barisan paling depan. Yeah!
Nih foto saya pas ada di barisan paling depan (karena saya di barisan paling depan, otomatis saya bisa memfoto bayangan saya tanpa tertindih bayangan orang lain):




Upacara Pembukaan Orientasi Diponegoro Muda 2015/2016




Pagi tadi sudah Upacara Pembukaan Penerimaan Mahasiswa Baru Undip 2015/2016 sudah dilaksanakan.
Yang di atas adalah foto di depan stadion Undip Tembalang sebelum upacara dimulai. Saya disambut dengan sebuah tulisan:
Selamat Datang Diponegoro Muda!
Setelah diam sejenak melihat tulisan itu (dan memfotonya) saya segera masuk ke dalam, berharap untuk dapat tempat di barisan paling depan.

Kembali Menulis Blog Undip Strip



Alhamdulillah, akhirnya saya bisa kembali menulis di blog Undip Strip ini.
Jadi gini guys.. yang membuat saya berhenti (sementara) dari menulis blog ini adalah karena kemaren-kemaren tuh laptop saya lagi ada gangguan, mulai dari overheat, auto reboot, mati sendiri, dll. Karena masalah itu, saya nggak bisa menggunakan laptop saya secara maksimal. Jadinya ya saya off dari menulis blog selama 12 hari.
Nah, sekarang laptop saya udah dapat berfungsi lagi dengan baik setelah saya mengganti Operation System-nya dengan Linux, move on dari si Windows.
Tapi, setelah laptop saya udah bisa berfungsi baik (dengan OS Linux) saya nggak bisa langsung mulai nulis blog lagi.. karena bagaimana pun juga saya masih ingusan soal sistem operasi Linux, jadinya saya menyesuaikan diri dulu. Belajar dasar-dasar penggunaan Linux, yang pada akhirnya merampas waktu saya untuk nulis blog.

***
Tapi tenang, guys.. sekarang saya udah mulai terbiasa dengan Linux kok, jadi waktu saya untuk nulis blog tidak akan tersita lagi..
Dan mulai hari ini saya memutuskan untuk kembali menulis di blog Undip Strip ini.

Kamis, 13 Agustus 2015

Sopir Angkot Undip Yang Baik

Sebelum pernah nyampe ke wilayah Undip, saya udah tahu (dari baca-baca) kalo di lingkungan Undip itu ada angkot kuning yang biasa dipake mahasiswa buat alat transportasi di wilayah kampus (dan juga dipake warga Tembalang secara umumnya).
Lhah, kemarin pas pertama kali saya ke Undip saya ketemu sama tuh angkot. 

Nggak ada yang spesial sih, sama aja kayak angkot-angkot biasanya. Cuman angkot ini warnanya dominan kuning. Gitu aja.

***

Dari pertemuan dengan angkot kuning ini, saya menyadari kalo ternyata ada fakta keliru yang saya dapet dari internet. Fakta apa? Tentang tarif naik angkot. Dari internet, saya tahu kalo biaya naik angkot itu Rp 2.000. Tapi setelah bener-bener naik, ternyata tarifnya Rp 3.000. Yah, mungkin data Rp 2.000 itu data lama, sebelum kenaikan harga BBM baru-baru ini.
Awalnya sih saya pura-pura nggak tahu soal tarif 3.000 itu, langsung nyodorin uang 2.000 ke supir, tapi si supir angkot langsung nyergah “Eh, ini kurang seribu,” dan saya nambahin seribu.
Dalam hati saya membatin, wah, ternyata tarifnya emang bener-bener naik jadi 3.000.

***

Abis itu saya naik angkot lagi. Udah nyiapin uang 2.000 buat bayar angkot nantinya. Coba-coba aja siapa tahu ntar supirnya mau nerima cuma 2.000.
Saya nyebut alamat, “Bisa anter ke xxx pak?”
Si Supir bilang, “Iya, bisa.”
Dan ini bagian menariknya. Angkotnya belok ke kanan, dan saya bengong; Eh, ini bukan jalur lalu-lintasnya angkot ini. Dan saya nyadar kalo si supir ini bener-bener nganterin saya ke alamat yang saya tuju (walaupun itu bukan di jalurnya).
Saya yang awalnya udah nyiapin uang dua ribu ngerasa nggak tega, masak udah dianter gini saya kasih cuma dua ribu? Saya ngambil uang lagi di kantong, nambahin, dan jumlahnya jadi tiga ribu—tarif angkot yang bener.
Setelah saya sampe, tuh angkot langsung puter balik (mungkin kembali ke jalurnya).
Saya nggak tahu kenapa tuh sopir baik banget mau nganterin saya. Mungkin aja sopirnya emang baik, mungkin juga karena sopirnya kasihan lihat tampang melas saya, dan mungkin aja tuh sopir emang lagi butuh uang tiga ribu (kayaknya nggak).

Saya nggak tahu apa alesannya, tapi saya paham satu hal: supir angkotnya baik banget.

Rabu, 12 Agustus 2015

Tentang Ujian Mandiri


(Ini cuma karang-karangan saya)

Di balik dalih bahwa ujian mandiri memberi kesempatan pada siswa buat masuk perguruan tinggi, ujian mandiri sebenernya juga merupakan ladang uang yang sangat efektif bagi perguruan tinggi itu sendiri.
Ujian mandiri, karena posisinya sebagai kesempatan terakhir, bakal diikutin hampir seluruh siswa yang masih bingung belum dapet tempat kuliah. Nah, kebingungan mereka itulah yang dimanfaatin perguruan tinggi untuk meraup untung besar yang dikemas dalam konteks memberi kesempatan.

***

Saya tertarik banget buat ngamatin besar biaya pendaftaran ujian mandiri beberapa universitas… dan lebih tertarik lagi kalo besar biaya pendaftaran itu dikaliin ama jumlah pendaftar, alias saya tertarik ama uang yang didapat universitas lewat ujian mandiri. Berapa jumlah duitnya? Gila! Duitnya banyak buanget!

Nih uang yang didapet beberapa universitas:
  • Universitas Indonesia
Biaya pendaftaran Rp 300.000, jumlah pendaftar 41.271. Uang yang didapat Rp 12.381.300.000 (dibaca: dua belas milyar tiga ratus delapan puluh satu juta tiga ratus ribu rupiah)
  • Universitas Gadjah Mada
Biaya pendaftaran Rp 300.000, jumlah pendaftar 28.603. Uang yang didapat Rp 8.580.900.000 (dibaca: depalan milyar lima ratus delapan puluh juta Sembilan ratus ribu rupiah)
  • Universitas Diponegoro (Ini kan blog tentang Undip, makanya saya tulis)
Biaya pendaftaran Rp 300.000, jumlah pendaftar 26.480. Uang yang didapat Rp 7.944.000.000 (dibaca: tujuh milyar sembilan ratus empat puluh empat juta rupiah)
  • dan masih banyak lagi universitas lainnya.
Saya sih nggak tahu seberapa besar uang itu menurut pihak universitas, tapi kalo menurut saya uang itu gueedhe banget!
Nggak kebayang kalo uang sebanyak itu saya buat beli es cendol, bisa-bisa tuh es cendol bisa buat renang orang se-Indonesia. Eh salah, nggak kebayang kalo uang sebanyak itu dialokasikan buat riset ilmu pengetahuan di Indonesia, pasti bakal nggak kebayang gimana jadinya!

Saya Ragu Buat Bawa Sepeda di Undip

Setelah melihat langsung daerah Undip, saya jadi bener-bener ragu buat bawa sepeda. Gambaran saya mengenai jalan di Undip salah besar. Jalan naik turun kata temen saya yang saya kira cuma naik turun biasa ternyata bener-bener naik turun yang nggak bisa lagi dibilang biasa.
Jalan tanjakan di gerbang kampus Undip udah jadi pengetahuan umum kalo tanjakannya tinggi banget. Bahkan saya nemu saran kayak gini di twitter:



Udah gitu jalan-jalan di dalem area kampus juga sama, jalannya naik turun nggak karuan. Pas saya naik angkot aja, angkotnya ampe ngerong buat naikin tuh tanjakan.
Dan saya yakin kalo saya bakal capek banget kalo bawa sepeda buat naikin seluruh tanjakan jalan di Undip.

***

Tapi kalo saya nggak bawa sepeda, saya bawa apaan? Motor? Emangnya saya punya duit buat beli motor? Lha wong untuk biaya kuliah saja saya udah megap-megap hampir nggak kuat kok… ini malah mau beli motor..
Naik angkot? Eh, naik angkot justru membuat biaya transportasi saya membengkak.

Pada akhirnya saya memutuskan buat tetep bawa sepeda. Bukan karena saya emang suka capek-capek naik tanjakan, bukan juga karena saya suka jalan turun abis naikin tanjakan.
Hal pertama yang bikin saya memutuskan buat bawa sepeda adalah karena dengan naik sepeda saya bisa menghemat pengeluaran.

Dan hal kedua—dan ini yang paling utama—adalah karena saya dapet kos di daerah Jurang Blimbing, yang jaraknya deket banget ama fakultas saya dan jalan yang saya lewati nggak ada tanjakan yang tinggi gila.

Selasa, 11 Agustus 2015

Naik Sepeda di Lingkungan Undip Bukanlah Pilihan Baik

Dari awal saya hendak mendaftar kuliah, saya sudah punya gambaran kalo besok pas kuliah saya bakal bawa sepeda onthel untuk transportasi saya kuliah. Murah, sehat, dan nggak memperparah polusi udara. Selain itu, yang saya lihat di negara-negara luar (yang maju), hampir seluruh mahasiswa yang kuliah itu naik sepeda, kayak gini:


Jadi, saya pengen ngikut tren baik (dan sangat bermanfaat) itu dengan naik sepeda pas kuliah.

***

Tapi saya melihat kenyataan yang berbalik di Indonesia; hampir semua mahasiswa itu naik motor!
Awalnya sih saya ngerasa risih: “Cih, mahasiswa kok naik motor, lha wong di negara-negara maju aja mahasiswa naik sepeda kok..”

Tapi pada akhirnya saya memahami logikanya, bahwa naik motor itu memang jauh lebih mudah dan enak daripada capek-capek ngayuh sepeda, apalagi di lingkungan Undip.
Teman saya yang udah setahun kuliah di Undip bertanya:
“Kamu besok pas kuliah bawa motor?”
“Nggak ah, saya bawa sepeda aja.” Saya menjawab
Heh? Nggak salah tuh.. Di Undip itu jalannya naik turun lho, bakal capek banget kalo kamu naik sepeda.”
“Masak sih?”
“Iya, aku bilangin kok.. Aku kan lebih pengalaman daripada kamu soal Undip.”
Saya yang awalnya mantep banget buat naik sepeda pas kuliah mulai ragu—walaupun masih tetep mantep.
Dalam hati saya membatin, ah, paling-paling cuma naik turun biasa. Capek dikit gak masalah lah, toh itu bikin badan saya sehat kok…

Tapi setelah melihat langsung daerah Undip, saya jadi bener-bener ragu.

Senin, 10 Agustus 2015

Sisi Lain Pahlawan Undip

Kemaren saya iseng tanya ama Simbah Gugel mengenai sisi lain Undip. Yah, sayangnya Simbah nggak tahu, dan dia malah ngelihatin sebuah video ke saya, judul videonya “Hari Pahlawan Undip 2013”.
Saya sih antara mau liat ama nggak, wong yang saya cari sisi lain Undip kok.. ini malah hari pahlawan..
Tapi karena masih ada sangkut-pautnya sama Undip, sama buka tuh video. Nih videonya kalo kamu juga pengen liat:


Keren!

Konsep yang sederhana tapi mengena, dan berkat video itu saya makin yakin untuk terus ngelanjutin kuliah di Undip.

Minggu, 09 Agustus 2015

Teduhnya Bernaung di FSM Undip


Walaupun di satu sisi saya mempertanyakan kualitas perawatan gedung-gedung di FSM Undip—yang di usia mudanya telah berwajah kusam dan karatan, di sisi lain saya tetap menyukai tempat ini.
Yang bikin saya suka tempat ini itu banyak, tapi yang paling utama adalah di sini pohon-pohonnya gede dan banyak banget. Jadinya suasana di sini tuh teduh, adem, dan ayem.
Ditambah lagi ama gaya bangunan gedung-gedungnya yang udah tua, cat yang mbusem, debu tebel, dan papan nama yang karatan, berada di fakultas ini rasanya kayak lagi ada di tahun 1800-an. Beneran.

Suasana di sini bikin saya lupa ama suhu panas wilayah Tembalang, karena di sini suasananya adem dan sejuk banget... Hmm… tempat yang sempurna buat tidur siang.


Yang di atas tuh poto saya yang lagi duduk di kursi lingkar pohon.  Nggak lama setelah poto ini dijepret saya bener-bener tidur.

Undip Itu Mahal, Guys...

Seperti yang udah saya ceritain sebelumnya; setelah ketrima di Undip saya justru nyesel—karena ternyata biaya kuliah di Undip itu mahal banget, guys... Beneran.


Jadi gini, pas abis pengumuman SBMPTN saya dikasih tahu ama temen saya yang kuliah di Undip kalo biaya kos di Undip itu rata-rata 500.ooo/bulan. Dan seketika itu saya langsung bengong, nggak percaya kalo semahal itu.
Buat orang desa kayak saya ini, biaya 500 per bulan itu udah mahal banget nget, belum lagi biaya untuk makan dan biaya kuliah. Kalo saya makan sehari 20.000, maka sebulan biaya makan saya 600.000. Kalo misalnya saya dapet UKT 3.000.000 (semoga aja nggak, moga-moga saya ketrima Bidikmisi. Amin) sebulan biaya kuliah saya 500.000.
Kalo dijumlah? 500.000 + 600.000 + 500.000 = 1.600.000!
Gila! Penghasilan keluarga saya sebulan bahkan nggak nyampe segitu! Dan penghasilan keluarga saya pastinya nggak cuma buat biaya nguliahin saya aja, tapi juga buat bayar hutang keluarga, makan, listrik, dll.
Dan saya nggak abis pikir kenapa biayanya semahal itu.
Saya bingung buat ngelanjutin di Undip atau nggak. Kalo lanjut di Undip, biayanya semahal itu. Kalo mau ngelanjutin di universitas lain, eh, emangnya saya bisa masuk? Emangnya ada universitas yang sudi nerima saya? Kalau pun ada, paling-paling biayanya juga sama.

***

Pada akhirnya saya milih untuk tetep ngelanjutin di Undip, dengan berharap (banget) permohonan Bidikmisi saya diterima. Kalo Bidikmisi saya diterima, biaya kuliah dan makan saya udah ter-cover, dan saya cuma butuh 500/bulan untuk membayar kos—setidaknya jauh lebih murah daripada 1,6 juta.
Dan menghadapi biaya yang tetep aja besar itu, saya harus bisa dapet uang selama kuliah, dan salah satu hal yang saya lakuin buat nyari uang itu adalah… bikin blog ini.

Jadi guys, sering-sering mampir ke blog ini yah… soalnya penghasilan saya dari blog ini buat biaya saya kuliah…


Update: (Lihat lagi Prolog Undip Strip) blog ini tidak lagi saya niatkan untuk cari uang.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Saking Tuanya Gedung di FSM, Mereka Sampai Kayak Gini

Rencananya hari ini saya mau cari kos di deket Fakultas Sains dan Matematika. Lhah sebelum cari kos-kosan, saya mau ngeliat fakultas saya dulu.

***

Pas ngelihat gedung-gedung di FSM, saya yakin kalo gedung-gedung ini pasti udah tua banget, dilihat dari gaya bangunannya, warna cat yang udah mbusem, debu tebel, dan lain-lain. Saking tuanya, papan namanya ampe tekyengen (karatan) kayak gini:

Setelah browsing di internet saya nyimpulin kalo gedung yang di depan saya itu dibangun tahun 1988 (http://fsm.undip.ac.id/profil/sejarah/), sebenernya ya nggak tua-tua amat sih.. bahkan bisa dibilang muda, wong baru 27 tahun kok… tapi kok udah mbusem dan karatan yah?

Saya Ketrima di Undip, Tapi...

Guys, di catatan ini saya bakal langsung loncat cerita di pengumuman SBMPTN.
Jadi gini, intinya, setelah daftar SBMPTN saya langsung ngelakuin persiapan buat ngadepin ujiannya; mulai dari persiapan materi, taktik, dan mental. Terus, selang sebulan saya bener-bener ngadepin ujiannya, dan lanjut nungguin pengumumannya.

***

Hari ini pengumuman SBMPTN.
Tidak seperti biasanya, pas pengumuman ini saya nervous gila. Seperti yang udah saya ceritain di sini, pas SNMPTN saya biasa-biasa aja pas nungguin pengumumannya. Tapi pas pengumuman SBMPTN ini saya sama sekali nggak bisa bersikap biasa. Lhah, gimana mau bersikap biasa, lha wong kalo saya nggak ketrima saya harus bingung-bingung lagi cari tempat kuliah dan ngeluarin banyak biaya buat ikut ujian mandiri—yang konon katanya biaya kuliahnya lebih mahal.
Pas udah waktunya pengumuman, saya nggak langsung buka. Saya yang takut—tapi sok cool—pura-pura bersikap biasa aja, lebih memilih ngelakuin hal-hal lain terlebih dulu.
Akhirnya, setelah berjanjen di musholla, terus tarawih berjamaah (ini kan bulan Ramahdan) saya buka ntuh pengumuman jam 9 malem.

Dan jeng jeng..


Alhamdulillah…
Akhirnya ada juga universitas yang sudi nerima saya.
Aslinya saya seneng banget liat ntuh pengumuman, pengen nangis, pengen loncat, pengen teriak, tapi karena saya sok cool, jadinya saya cuma ngangguk-ngangguk doang di depan leptop.
Saya seneng banget, tapi kesenangan itu nggak berlangsung lama. Karena setelah ketrima di Undip, saya baru tahu kalo ternyata Undip itu mahal.

Dan saya nyesel udah ketrima di Undip.

Jumat, 07 Agustus 2015

Apa Salahnya Mencoba

Berhubung saya naruh pilihan SBMPTN di universitas-universitas kelas II, kakak saya protes abis-abisan.
“Kenapa nggak coba di UI ato ITB sih?”
Dan saya jawab, “Nggak ah, kalo dipikir-pikir kemampuanku nggak nyampe.”
“Ee.. Kok pesimis… jangan pesimis, dong. Coba-coba aja, siapa tahu ntar ketrima.”

***

Kalo saya pikir-pikir kasus tersebut sama aja kalo kakak saya bilang kayak gini,
“Kenapa kamu nggak coba lompat dari menara monas sih..?”
Saya jawab, “Hweh, ya nggak lah, kemampuan gua belum nyampe.”
“Ee.. kok pesimis.. jangan pesimis, dong. Coba-coba aja, siapa tahu ntar kamu selamet.”

Dan saya bengong aja dengerin nasehat gila kakak saya.



Kamis, 06 Agustus 2015

Mikir-mikir Soal Passing Grade Undip

Tekad saya udah bulat buat bangkit dari penolakan yang pertama (SNMPTN). Saya bakal ikut seleksi lewat SBMPTN.

***

Yang aneh dari proses pilah-pilih universitas buat SBMPTN kali ini adalah, bahwa saya sama sekali nggak berharap buat bisa masuk di universitas-universitas gedhe di Indonesia (UI, ITB, UGM, ITS). Kenapa?
Eleh eleh, kalau kamu tahu gimana bingungnya nggak keterima kuliah, kamu pasti tahu alesannya. Ketrima di universitas kelas II (maksudnya di universitas yang gak gedhe2 amat) jauh lebih baik daripada nggak ketrima sama sekali. Beneran.
Dulu pas akhir-akhir masa MA, saya ngebet banget pengen kuliah di Fisika ITS. Sampe-sampe di pilihan SNMPTN saya taruh Fisika ITS di pilihan pertama. Dan waktu itu, saya juga udah punya rencana kalau ternyata saya nggak keterima (dan ternyata saya emang nggak ketrima), saya bakal naruh Fisika ITS di pilihan pertama SBMPTN.
Itu dulu, tapi nyatanya nggak kok. Saya sadar kalo sekarang bukan saatnya bertindak idealis, sekarang saatnya realistis. Saatnya sadar diri, bro! Kenali kemampuan, dan tentukan pilihan. Dan saya pikir kemampuan saya nggak bisa bawa saya masuk ke universitas kelas wahid, paling-paling cuma bisa buat masuk di universitas kelas II dan adek-adeknya.
Atas dasar itu, saya lihat-lihat data passing grade yang ada di internet. Lihat-lihat data persaingan, kemungkinan masuk, dan tethek-bengek lainnya.
Berdasarkan proses pikir-pikir yang nggak sebentar (tapi juga nggak lama), akhirnya saya pilih urutan kayak begini:
1. Fisika UNDIP
2. Fisika UNS
3. Fisika UNSOED
Nih, penampakan kartu SBMPTN saya (ternyata saya ganteng yah..):


Rabu, 05 Agustus 2015

Saya Harus Move On

Saya gak bisa terus-terusan merem kayak sebelumnya, karena kalau terus-terusan seperti itu lama-lama saya bakal tidur dan kemudian bermimpi. Ini bukan waktunya buat bermimpi, tapi ini adalah waktu buat ngerubah mimpi itu jadi nyata. Dan untuk itu saya harus melek dan bangun.

***

Oke, saya udah melek.
Saya harus cepet-cepet move on dari penolakan Undip. Atau kalau nggak, saya bakal jadi orang paling rugi sedunia karena udah ngelewatin banyak kesempatan lain cuma gara-gara galau sama satu buah kegagalan

Setelah Penolakan Undip

Hari-hari setelah penolakan Undip saya jalani kayak biasanya. Saya sante aja (beneran sante, gak kayak yang sebelum-sebelumnya), dan yang bener-bener gak bisa sante itu bapak sama ibu saya.
Harusnya dulu kamu tulis Undip di pilihan pertama aja, pasti kamu bakal ketrima, nggak kayak sekarang ini…” Bapak saya berkhotbah.
Iya, wong temen kamu Dulkamit yang nggak pinter aja bisa ketrima kok, gara-gara dia nulis Undip di pilihan pertama..” Ibu saya menambahi.
Kamu kebanyakan gaya sih… Makanya nggak usah gaya-gayaan mau masuk ke ITS, ngelihat sendiri akibatnya kan.. ITS nggak ketrima, Undip juga nggak ketrima. Temen-temen kamu udah pada enak tinggal registrasi sama nyari kos, lah kamu masih harus ikut seleksi lagi..” Bapak menambahi.
Seperti itulah hari-hari saya dihiasi setelah saya gak ketrima di Undip. Dan saya menikmati itu, karena bagi saya nasehat bapak-ibu saya terdengar seperti lantunan musik yang sangat merdu—beneran.
Ketika mereka berdua udah selesai menasehati, musik indah itu pun berhenti, berbarengan dengan saya nyopot earphone dari telinga saya. Dan kalau mereka mulai menasehati lagi, saya pasang earphone di telinga, dan lantunan musik merdu pun kembali saya dengar. Saya sangat menikmatinya—menikmati musik yang saya dengar.

*ini cuma hiperbola saya aja--saya nggak punya earphone dan bapak-ibu saya juga nggak kayak gitu

Yang Lebih Menyakitkan Daripada Penolakan Undip


Saya nggak diterima di Undip lewat SNMPTN, dan saya biasa aja—paling cuma mewek ngurung diri di kamar, terus di kamar nangis sejadi-jadinya.

***

Sebenernya yang bikin saya sedih tuh bukan karena ditolak Undip, guys.
Hah? Terus karena apa?
Yang bikin saya sedih tuh karena saya nggak diterima, sementara temen-temen saya diterima. Dan itu benar-benar menyakitkan.
Ibaratnya saya sama temen-temen saya itu masing-masing sedang naik Gojek ke tujuan yang sama, bareng mas-mas Gojek yang ganteng ini:


Semua temen saya selamat sampai tujuan, sedangkan saya nggak, dan saya ditinggal gitu aja ama mereka, diperparah lagi si tukang Gojek yang mboncengin saya juga ikut-ikutan ninggalin saya. Saya ditinggal sendirian di jalan kayak orang gila yang ilang, sementara mereka bersuka cita karena selamat sampai tujuan—mungkin juga bersuka cita atas kemalangan saya.
Hiks.. hiks...

(Ini cuma contoh lho ya.. Nggak ada hubungannya sama kasus Gojek seminggu yang lalu itu. Weh, kasus yang mana? Jangan ngarang deh lu… E, ya, ya, maaf, kan ini cuma buat lucu-lucuan.)

Selasa, 04 Agustus 2015

Undip Menduakanku

Kemaren saya udah cerita tentang hal yang bikin saya ragu sama Undip, yang ternyata eh ternyata itu cuma salah paham gara-gara ada masalah di jaringan internet saya. Hiks.
Saya salah paham, dan saya sempet ngejelek-jelekin Undip. Saya harus minta maaf sama si Undip. Harus, dan secepatnya.
Tapi secepet-cepetnya saya bertindak, tetep aja orang bilang itu lambat—padahal kan iya. Hadeh. Saya udah bertindak cepat kok, saking cepetnya waktu sebulan berlalu gitu aja dan saya belum ngelakuin apa-apa.
Sebulan? What!?
Ooh.. udah sebulan yah.. (*saya udah tenang)
Kalau udah sebulan, berarti hari ini bakal ada pengumuman hasil SNMPTN.. Temen-temen saya yang deg-degan nunggu pengumuman udah pada ribut apdet status di fesbuk, sementara saya sante aja duduk di depan rumah sambal melototin kendaraan yang lewat. Ngeng…

***

Saya buka leptop dan langsung terdiam.
Saya nggak lulus, gays. Beneran. Dan hebatnya, menghadapi ketidaklulusan itu saya biasa aja (tapi hati saya remuk).
*suasana hening
Kalau ITS nggak nerima saya itu sih wajar, tapi ini si Undip juga ikut-ikutan nggak nerima saya. Sakit banget rasanya.
Ini nggak bisa dimaafin. Sebenernya saya udah ada niatan mau minta maaf sama Undip soal ngejelek-jelekin dia sejak sebulan yang lalu, tapi karena ada hal seperti ini, saya nggak jadi minta maaf. Kalau kayak gini, harusnya Undip yang minta maaf sama saya. Dia udah nyakitin saya.
Undip menduakan saya. Oh, sakit.. sakit…


Sementara itu, dengan suara lirih lembut Si Undip berkata, “gimana aku nggak menduakan kamu.. Kamu aja menomorduakan aku kok..
Saya yang mendengar suara lembut itu lantas terdiam.
Lalu tidur.

Yang Bikin Saya Ragu Sama Undip

Pas pertama kali saya ngelirik Si Undip, suara-suara sumbang tiba-tiba muncul. Suara positif ada, “Ya, Undip juga bagus kok..,” tapi yang negatif jauh lebih banyak, “Ah, Undip itu jelek, cuma menang nama doang.” Dan ketika digeruduk suara-suara sumbang itu saya cuma bisa diem aja—karena saya belom tahu apa-apa.
Habis sudah suara sumbang itu, saya lalu tanya-tanya ke Simbah Gugel. Sama kayak yang udah saya tulis di catatan sebelumnya, Simbah Gugel mengeluarkan fatwanya: Undip itu bagus, termasuk dalam salah satu universitas terbaik di Indonesia.
Ya, ya, saya percaya Mbah, Undip itu bagus. Mungkin suara sumbang yang ngejelek-jelekin Undip itu cuma orang yang iri aja.
Iri? Eh, iri sama siapa? Krik-krik. (Saya gerak-gerakin kursor leptop) Eh, ini website Undip yah?



Kok tampilannya kayak gini yah... Ini beneran websitenya salah satu universitas—yang katanya—terbaik di Indonesia? Kok tampilannya nggak keren blas sih.
Saya masih mlongo ngelihatin leptop. Ini beneran website Undip?
Seketika itu pula saya semakin ragu sama Undip, mempertanyakan kualitas Undip, dan itu dikarekanan satu hal, apalagi kalau bukan tampilan websitenya?
Tapi…
Halah, masa bodoh tentang kualitas, tentang tampilan website, pada akhirnya saya tetep milih Undip (di pilihan kedua SNMPTN). 

***

Setelah di waktu lain saya buka website Undip, saya baru nyadar: ternyata tampilan website Undip tuh nggak separah kayak yang kemarin saya lihat (gambar yang di atas), dan tampilan kayak gitu ternyata dikarenain ada gangguan pada jaringan internet saya. (*gubrak)
Website Undip yang bener itu tuh kayak begini:


Hhmm.. ya, ya, agak mendingan lah.. Tapi tetep aja websitenya gak sekeren website temen-temennya..

Senin, 03 Agustus 2015

Undip Bukanlah Pilihan


Halo bro, ini catatan pertama saya di blog Undip Strip ini. Saya bakal cerita soal bagaimana saya bisa nyasar di Undip. Sebelumnya saya udah nyinggung ini di prolog sih, tapi si dianya nggak ngerasa, jadi saya mau jelasin dia secara panjang kali lebar kali tinggi (kayak volume balok) di sini aja.

***

Undip? Aih, makanan apa itu. Seumur-umur, meski saya tahu nama itu, saya tidak pernah sekali pun secara sengaja menyebutnya (kayaknya), dan tidak pernah sekali pun tertarik dengannya. Dulu, saya berpikir kalo saya bakal kuliah di Jepang (serius nih, pas masih MTs saya ngimpi besok bakal kuliah di Jepang), terus pas udah MA saya pengen kuliah di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika. Tapi pikiran itu menghilang gitu aja ketika saya naik kelas dan semakin tua—dewasa.
Saya pernah kepikiran pengen kuliah di Surya University, itu.. universitas buatannya Yohanes Surya (secara dong, saya kan anak Fisika), pernah kepikiran bakal kuliah di UI atau ITB, tapi pada akhirnya saya tidak memilih itu semua. Pilihan saya justru berbalik arah. Kalau selama ini saya berpikir ke arah barat, pada akhirnya saya menoleh ke arah Timur, dan pilihan saya jatuh di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember—yang sering diplesetkan jadi it’s no). Saya menuliskannya pada pilihan pertama SNMPTN: Jurusan Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Yakin? Ah, ya nggak lah. Gimana mau yakin, alumni MA saya udah lebih dari 4 tahun nggak ada yang kuliah ke ITS lagi—sedangkan penilaian SNMPTN sangat memperhatikan alumni sekolah yang ngelanjutin di universitas tsb. Tapi bagaimanapun juga saya berharap banget buat bisa masuk ke sana.
Sebagai cadangan kalau saya nggak lulus, saya terpaksa banget milih salah satu universitas di Jawa Tengah (aturan SNMPTN, kalo milih dua univ salah satu atau keduanya harus berada di provinsi sekolah asal) sebagai cadangan. Dan berdasarkan riset singkat ala Simbah Gugel, kayaknya Universitas Diponegoro—yang katanya terbaik—layak untuk saya jadikan cadangan, jaga-jaga kalau saya nggak masuk di ITS. Toh, alumni MA saya tiap tahun banyak yang ke Undip kok, jadi harapan saya untuk bisa masuk Undip cukup besar.

So, Undip bukanlah pilihan saya. Saya memilih ITS, sedangkan Undip cuma saya jadiin cadangan. Toh sebenernya saya juga ragu dengan kualitas Undip, nggak peduli kalo Simbah gugel bilang Undip adalah salah satu yang terbaik di Indonesia. Ya, saya ragu banget, seperti yang saya tulis di catatan berikutnya